Data Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (SIPALAGA) BRGM RI di Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2021

maxresdefault

Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Kenalkan Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (SIPALAGA)

Teknologi informasi dan komunikasi yang memonitor proses pembasahan gambut untuk restorasi dan pencegahan kebakaran lahan gambut

Jakarta, 16 Januari 2019 Badan Restorasi Gambut (BRG) melalui Kedeputian Bidang Penelitian dan Pengembangan, mengembangkan inovasi teknologi informasi terbaru dalam wujud Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (SIPALAGA). Sistem ini merupakan platform pemantau data real-time yang berasal dari alat pemantau Tinggi Muka Air (TMA) yang dapat mengukur kelembaban tanah gambut, tingkat curah hujan, suhu dan kelembapan udara serta arah dan kecepatan angin. Hingga Desember 2018, BRG telah melakukan pemasangan alat pemantau TMA sebanyak 142 buah yang tersebar di 7 Provinsi Prioritas Restorasi.

Pemantauan TMA di lahan gambut merupakan hal penting untuk pencegahan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan emisi gas rumah kaca. Pemantauan TMA mencegah lahan gambut kehilangan air tanpa terkendali. Berkurangnya air pada lahan gambut memberikan dampak negatif, antara lain ialah penurunan TMA, penurunan permukaan gambut, emisi CO2, terjadinya  kebakaran dan kekeringan total (irreversible drying).

Pemerintah telah berupaya mencegah kerusakan pada  ekosistem gambut dengan mengeluarkan kebijakan, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No. 57/2016, yang menegaskan bahwa pemanfaatan ekosistem gambut wajib dilakukan dengan menjaga fungsi hidrologis gambut.

“SIPALAGA merupakan komitmen BRG untuk sediakan data dan informasi sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Dengan adanya SIPALAGA diharapkan informasi mengenai TMA dapat diakses setiap saat secara real-time dan membantu upaya untuk mengembalikan fungsi hidrologi dan ekologi gambut ke kondisi semula atau terbaik,” ungkap Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut, Haris Gunawan.

SIPALAGA berfungsi untuk mengatur proses perekaman data TMA sampai pada proses penyajian data di website secara real-time berbasis telemetri. Alat pemantau TMA akan merekam parameter tinggi muka air, kelembaban tanah dan curah hujan per 10 menit dan akan mengirimkan datanya setiap harinya.

Terpasangnya alat pemantau TMA sistem telemetri, serta pemantauan TMA ini, diharapkan dapat mendukung berkembangnya informasi dan ketersediaan data secara historis/series. Pada 2019, alat pemantauan TMA akan ditambah pemasangan sebanyak 20 unit di 6 provinsi. Sebaran pemasangan alat TMA hingga 2018 adalah Riau (47 alat), Jambi (13), Sumatera Selatan (20), Kalimantan Barat (13), Kalimantan Tengah (42), Kalimantan Selatan (5) dan Papua (2).

Klik Link di bawah untuk mendownload data di daerah Kalimantan Tengah tahun 2021 :

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus